PENDAHULUAN
Guru
adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan
murid-murid, baik secara individual maupun klasikal, baik di sekolah maupun
luar sekolah”. Ini berarti bahwa seorang guru, minimal harus memiliki
dasar-dasar kompetensi sebagai wewenang dan kemampuan dalam menjalankan tugas.
Berdasarkan uraian di atas, dapatlah dipahami bahwa kompetensi guru merupakan
suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh seorang guru, baik dari segi
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan serta tanggung jawab terhadap
murid-murid yang di asuhnya,sehingga tugasnya sebagai seorang pendidik dapat
terlaksana dengan baik..
Dalam suatu sekolah yang apabila program pendidikan tersebut bertujuan agar
siswanya mencapai perkembangan optimal sebagai individu dan makhluk sosial,
maka pendidikan di sekolah itu tidak cukup dengan memberikan program kurikulum
mata pelajaran saja, tetapi mata pelajaran tersebut harus diajarkan dan diatur
dengan cara yang baik, sedangkan jika siswa menghadapi masalah dalam rangka
penyelesaian program pendidikan di sekolah, dimana masalah itu tidak hanya
terbatas masalah mengenai pelajaran, maka sekolah perlu mengadakan usaha untuk
membantu siswa dalam memecahkan masalahnya. Siswa sebagai anak didik dalam
kehidupannya tidak terlepas dari berbagai macam masalah apakah itu masalah
internal atau masalah eksternal siswa, baik masalah yang ringan maupun masalah
yang berat, semuanya memerlukan pemecahan sebagai jalan keluarnya. Kita ketahui
bahwa tidak semua orang mampu memecahkan masalahnya sendiri, baik orang dewasa
terlebih lagi anak yang masih dalam taraf perkembangan menuju kedewasaan, maka
orang dewasalah yang dapat membimbing dan membantu memecahkan masalah yang
dihadapinya.
Jadi jelas bahwa dalam kegiatan belajar mengajar biasanya
banyak masalah yang timbul terutama dirasakan oleh siswa. Guru mempunyai
tanggung jawab yang besar dalam membantu siswa agar berhasil dalam belajarnya.
Untuk itu hendaknya guru memberikan bantuan kepada siswa untuk mengatasi
masalah yang timbul dalam proses kegiatan belajar mengajar. Disini letak
pentingnya guru sebagai pendidik untuk membantu siswa agar dapat berhasil dalam
pelajaran sehingga proses belajar mengajar berjalan lancar sesuai dengan yang
diharapkan. Pendekatan-Pendekatan Guru dalam mengatasi kesulitan
belajar siswa.
Pengertian Belajar menurut C.T. Morgan dalam buku
Introduction To Psychology (1961), Belajar adalah suatu perubahan yang relatif
menetap dalam tingkah laku sebagai akibat / hasil dari pengalaman yang lalu.
Ringkasnya ia mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relative
menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau
pengalaman.Siswa mengalami suatu proses belajar.
Dalam proses belajar tesebut, siswa menggunakan kemampuan
mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Kemampuan-kemampuan kognitif,
afektif dan psikomotorik yang dibelajarkan dengan bahan belajar menjadi semakin
rinci dan menguat. Adanya informasi tentang sasaran belajar, adanya
penguatan-penguatan, adanya evaluasi dan keberhasilan belajar, menyebabkan
siswa semakin sadar, akan kemampuan dirinya.
Pengertian Mengajar Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a
theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide,
problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami
oleh setiap siswa. Ngalim Purwanto dalam bukunya Ilmu Pendidikan Teoritis dan
Praktis (1998: 150) mengemukakan yang dimaksud dengan mengajar ialah memberikan
pengetahuan atau melatih kecakapan-kecakapan atau keterampilan-keterampilan
kepada anak-anak.
HASIL
OBSERVASI
A. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PEMBELAJARAN
a. Konten isi pembelajaran
Pembelajaran yang akan dipelajari :
menyimak, berbicara, membaca, menulis
b.
Bahan
Bahan
rencana pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia SMPN 1 POLENGA VII/1:
1.
menyimpulkan
isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat yang diambil bahannya dari
TV/radio/ kaset cd berita.
2.
menuliskan
kembali berita yang dibacakan kedalam beberapa kalimat yang bahannya diambil dari
teks berita, TV/radio/ kaset cd berita.
3.
menceritakan
pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan kata yang efektif yang
bahannya diambil dari buku teks siswa atau pengalaman pribadi siswa yang
mengesankan.
4.
menyampaikan
pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimat lugas yang
bahannya diambil dari selebaran pengumuman lingkungan/ buku teks.
5.
menemukan
makna kata tertentu dalam kamus secara cepat dan tapat sesuai dengan konteks
yang diinginkan melalui kegiatan membaca dan memindai yang bahannya diambil
dari kamus istilah atau KBBI, buku bacaan teks nonsastra.
6.
Memenuhi
hal-hal menarik dari dongeng yang yang diperdengarkan yang bahannya diambil
dari buku teks, buku bacaan.
7.
Bercerita
dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gesture, dan mimic yang tepat
yang bahannya diambil dari buku teks.
Bahan
rencana pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia SMPN 1 PolengaVIII/1:
1.
Menemukan
informasi secara cepat dan tepat dari ensiklopedi atau buku telepon dengan
membaca memindai yang bahannya diambil dari ensiklopedi dan buku telepon
2.
Menulis
surat dinas berkaitan dengan kegiatan sekolah dengan sistematika yang tepat dan
bahasa yang baku yang bahannya diambil dari buku surat menyurat seperti surat
dinas sekolah.
3.
Berwawancara
dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika
berwawancara yang bahannya diambil dari rekaman wawancara narasumber.
4.
Menulis
petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang
efektif yang bahannya diambil dari model-model petunjuk.
5.
Menganalisis
laporan yang bahannya diambil dari kumpulan teks laporan, rekaman laporan.
6.
Menanggapi
isi laporan yang bahannya diambil dari teks laporan narasumber siswa
7.
Menulis
laporan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar yang bahannya diambil
dari kegiatan pentas seni, contoh laporan kegiatan
8.
Menyampaikan
laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar yang bahannya diambil
dari kumpulan teks laporan
9.
Mendeskripsikan
tempat atau arah dalam konteks yang sebenarnya dengan yang tertera pada denah
yang bahannya diambil dari denah dan peta
10.
Menyampaikan
laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar yang bahannya diambil
dari kumpulan teks laporan
11.
Membuat
synopsis novel remaja yang bahannya diambil dari novel remaja Indonesia
c. Strategi pembelajaran
Untuk
dapat melaksanakan proses belajar mengajar yang efektif, ada beberapa strategi
mengajar yang dilakukan oleh guru bidang studi bahasa Indonesia SMPN 1 Polenga,
yakni:
1. Menciptakan pertanyaan-pertanyaan,
masalah-masalah dan pemecahannya.
Guru
bahasa Indonesia SMPN 1 Polenga menciptakan pertanyaan-pertanyaan,
masalah-masalah dan pemecahannya. Pada saat proses belajar mengajar dikelas,
setelah guru menjelaskan materi lalu guru membuat pertanyaan-pertanyaan,
masalah-masalah dan pemecahannya sendiri. Lalu guru melontarkan
pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada siswa. Diharapkan dengan cara tersebut
siswa dapat lebih memahami materi yang disampaikan oleh guru dan tetap
menginggatnya.
2. Mengajak siswa untuk saling
berinteraksi.
Guru
mengajak siswa untuk saling berinteraksi dan berdiskusi. Misalnya ada sebuah
materi, dan ada sebuah kasus, maka siswa diajak untuk saling berinteraksi,
berdiskusi dengan cara berkelompok. Misalnya ada materi tentang memahami wacana
lisan melalui kegiatan mendengar berita seperti yang ada pada standar
kompetensi kelas VII/1. Maka guru bahasa Indonesia mengajak para siswa untuk
membentuk sebuah kelompok dalam satu kelas dibagi beberapa kelompok. Dan mereka
diajak berdiskusi dan menyampaikan pendapat mereka masing-masing lalu kemudian
dipaparkan kembali untuk didiskusikan bersama kelompok lain untuk pada akhirnya
dibuat kesimpulan dari diskusi tersebut. Sebab menurut Piaget, pertukaran
gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran
tidak dapat di-ajarkan secara langsung, per-kembangkannya dapat distimulasi
melalui interaksi dengan siswa pada tingkat yang sama.
3. Menggunakan istilah teknis.
Hasil
searching di google beberapa waktu yang lalu kami menemukan statement
penelitian mengungkapkan bahwa bahasa dapat memperjelas dan memperkaya
gagasan/ide para siswa pada tingkat perkembangan yang tinggi. Tetapi
istilah-istilah teknis dalam pembelajaran seringkali merintangi alam fikir
mereka karena mereka terpaku pada satu istilah saja tanpa memahami konsep dasar
istilah tersebut. Namun guru bahasa Indonesia di SMPN 1 Polenga menggunakan
istilah teknis dalam pembelajaran bahasa Indonesia dikelas. Guru menyuruh siswa
mencari kata yang sulit yang ditemukan dalam sebuah wacana yang ada dibuku
paket, ataupun di Koran harian, atau dari mana saja, lalu siswa disuruh mencari
makna dari kata sulit tersebut dikamus bahasa Indonesia yang mereka bawa
sebelumnya dari rumah.
4. Menganjurkan siswa berpikir dengan
cara mereka sendiri.
Guru
menganjurkan siswa berfikir dengan cara mereka sendiri, siswa boleh
mengutarakan pendapat mereka sebebas mungkin namun sesuai dengan batasan yang
ada tanpa mengurangi nilai esensi dari demokrasi siswa. Pada SMPN 1 Polenga guru
memancing siswa untuk menjelaskan suatu materi yang belum guru jelaskan
sebelumnya. Misalnya dalam materi ragam teks nonsastra meteri kelas VII/1,
sebelum guru menjelaskan apa saja yang masuk kedalam materi ragam teks
nonsastra, guru bertanya terlebih dahulu kepada para siswa apa saja sih yang
masuk dalam ragam teks nonsastra. Guru memancing terlebih dahulu, membiarkan
siswa mengemukakan pendapat mereka sendiri. Lalu baru guru menjelaskan
materinya, menambahkan yang siswa kemukakan, atau mengoreksi apabila ada
kesalahan dalam pendapat siswa.
5. Perkenalan ulang (reintroduce).
Guru
SMPN 1 Polenga sebelum memulai suatu materi baru, guru mereview kembali apa
saja yang sudah diulas pada pertemuan sebulumnya dengan cara menanyakan pada
anak didik mengenai materi apa saja yang sudah diulas sebelumnya. Hal itu
dilakukan agar para siswa tetap mengingat materi dan tidak melupakannya pada saat
melanjutkan materi baru.
d. Prilaku guru
Pada
saat proses belajar mengajar dikelas, guru bahasa Indonesia SMPN 1 Polenga sengaja
bersikap ramah kepada setiap anak, guru melakukan pendekatan psikologis
terhadap setiap siswa secara personal maupun tidak. Apalagi SMPN 1 Polenga ini
letaknya disebuah desa polenga yang bisa dibilang hubungan antara murid dan
guru lumayan dekat secara personal karena sekolah ini merupakan sekolah yang
ada didesa, dengan sifat masyarakat desa itu pada dasarnya adalah homogen,
berbeda dengan dikota yang masyarakatnya bersifat heterogen. Sehingga
memudahkan guru melakukan pendekatan kepada para siswa agar dapat lebih
memahami karakter sikap masing-masing siswa. Hal itu dilakukan agar siswa
merasa nyaman pada pelajaran bahasa Indonesia, sebab apabila siswa sudah merasa
nyaman pada seorang guru, maka meraka akan menyukai pula mata pelajaran yang
disampaikan oleh guru. Dari yang kami perhatikan nampaknya guru lebih
memperhatikan siswa yang duduk dibangku belakang, sebab siswa yang duduk
dibelakang biasanya suka sekali mengantuk, dan tidak memperhatikan pelajaran.
Maka sebab itu apabila guru membuat sebuah pertanyaan, maka yang dilontarkan
terlebih dahulu adalah para siswa yang duduk dibagian belakang. Hal itu akan
menyebabkan siswa fokus kepda pelajaran yang diberikan guru dikelas.
e. Menstrukturkan pembelajaran
Guru
mata pelajaran bahasa Indonesia di SMPN 1 Polenga menstrukturkan pembelajaran
dengan 3 bagian, yakni:
1.
pembukaan
: melakukan salam, dilanjutkan dengan melontarkan pertanyaan apakah siswa masih
mengingat materi sebelumnya, lalu mereview materi yang sudah diulas pada
pertemuan sebelumnya.
2.
Inti
: setelah selesai mereview materi pada pertemuan sebelumnya, kemudian guru
masuk kedalam materi baru. Namun sebelumnya guru bertanya apakah sudah ada yang
membaca materi baru ini dirumah, guru sengaja memancing pertanyaan-pertanyaan
agar siswa aktif dikelas. Lalu setelah itu baru guru menjelaskan materi yang
harus disampaikan tersebut.
3.
Penutup
: setelah pemberian materi selesai, guru memberikan tugas sesuai dengan materi,
lalu kemudian guru menutup pertemuan dengan mengucapkan salam.
f. Lingkungan belajar
Salah
satu faktor penting yang dapat memaksimalkan kesempatan pembelajaran bagi anak
adalah penciptaan lingkungan pembelajaran yang kondusif. Lingkungan
pembelajaran dalam hal ini, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan
tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan kondusif berarti kondisi
yang benar-benar sesuai dan mendukung keberlangsungan proses pembelajaran.
Proses pembelajaran merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya,
sehingga pada diri anak terjadi proses pengolahan informasi menjadi
pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai hasil dari proses belajar.
Lingkungan
belajar dapat diciptakan sedemikian rupa, sehingga dapat memfasilitasi anak
dalam melaksanakan kegiatan belajar. Lingkungan belajar dapat merefleksikan
ekspektasi yang tinggi bagi kesuksesan seluruh anak secara individual. Dengan
demikian, lingkungan belajar merupakan situasi yang direkayasa oleh guru agar
proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Menurut Saroni (2006) dalam
Kusmoro (2008), lingkungan pembelajaran terdiri atas dua hal utama, yaitu
lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
Lingkungan fisik dalam hal ini
adalah lingkungan yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik
yang ada dilingkup sekolah, dalam hal ini dalam ruang kelas belajar di
sekolah. Lingkungan fisik dapat berupa sarana dan prasarana kelas, pencahayaan,
pengudaraan, pewarnaan, alat/media belajar, pajangan serta penataannya.
Sedangkan lingkungan sosial merupakan pola interaksi yang terjadi dalam proses
pembelajaran. Interaksi yang dimaksud adalah interkasi antar siswa dengan siswa,
siswa dengan guru, siswa dengan sumber belajar, dan lain sebagainya. Dalam hal
ini, lingkungan sosial yang baik memungkinkan adanya interkasi yang
proporsional antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
Menurut Mulyasa (2006), dalam upaya
menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi anak, guru harus dapat
memberikan kemudahan belajar kepada siswa, menyediakan berbagai sarana dan
sumber belajar yang memadai, menyampaikan materi pembelajaran, dan strategi
pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar. Oleh karena itu, peran guru
selayaknya membiasakan pengaturan peran dan tanggung jawab bagi setiap anak
terhadap terciptanya lingkungan fisik kelas yang diharapkan dan suasana
lingkungan sosial kelas yang menjadikan proses pembelajaran dapat berlangsung
secara bermakna. Dengan terciptanya tanggung jawab bersama antara anak dan
guru, maka akan tercipta situasi pembelajaran yang kondusif dan bersinergi bagi
semua anak (Kusmoro, 2008).
Di SMPN 1 Polenga ini lingkungan
belajar untuk pelajaran bahasa Indonesia sudah cukup kondusif. Walaupun tidak
ada hal yang sempurna didunia ini, namun kami rasa sudah cukup baik. Dalam
mengorganisasikan ruang fisik kelas, juga sangat ditentukan oleh tipe aktivitas
pembelajaran yang direncanakan untuk dilaksanakan oleh anak. Dalam hal ini,
perbedaan level kelas, kecepatan materi antar kelas, aktivitas kelompok dan
aktivitas individual harus dapat terakomodasi secara fleksibel dalam penataan
lingkungan fisik kelas. Menurut Renne (2007) dalam Santrock (2008),
penataan kelas standar dapat dilakukan dalam lima gaya penataan, yaitu
auditorium, tatap-muka, off-set, seminar, dan klaster.
Gaya auditorium, gaya susunan kelas
di mana semua siswa duduk menghadap guru.
1. Gaya tatap muka, gaya susunan kelas
di mana siswa saling menghadap.
- Gaya off-set, gaya susunan
kelas di mana sejumlah siswa (biasanya tiga atau empat anak) duduk di
bangku, tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain.
- Gaya seminar, gaya susunan
kelas di mana sejumlah besar siswa (sepuluh atau lebih) duduk disusunan
berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U.
- Gaya klaster, gaya susunan
kelas di mana sejumlah siswa (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja
dalam kelompok kecil.
SMPN 1 Polenga
sendiri menggunakan gaya auditorium yang gaya penyusunan kelas dimana semua
siswa duduk menghadap guru. Dengan penataan bangku, kursi murid menghadap
kearah guru dan papan tulis. Hal itu dilakukan agar perhatian siswa fokus
kepada guru dan tidak terpecah ke hal yang lain. Dan hal itu sudah terbukti
berhasil karena menjadi gaya penataan kelas yang popular di Indonesia dan
menyebabkan siswa fokus ke guru.
Menurut
Weinstein dan Mignano (1997) dalam santrock (2008), kelas juga penting
untuk dilakukan personalisasi, meskipun bagi sekolah yang menggunakan sistem moving
class terdapat beberapa kelas yang belajar dalam satu hari. dan SMPN 1 Polenga
ini tidak melakukan moving class Karena menganggap system ini belum tepat
dilakukan di sekolah ini karena memakan waktu cukup lama hanya untuk
perpindahan siswa ke kelas lain pada saat pergantian pelajaran.
Sedangkan
untuk pengelolaan kelas yang positif untuk pembelajaran yang dilakukan oleh
guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMPN 1 Polenga menggunakan gaya
manajemen kelas otoritatif berasal dari gaya parenting, di mana guru yang
otoritatif akan mempunyai siswa yang cenderung mandiri, tidak cepat puas, mau
bekerja sama dengan teman, dan menunjukkan penghargaan diri yang tinggi.
Strategi manajemen kelas otoritatif, mendorong siswa untuk menjadi pemikir yang
independen dan pelaku yang independen, tetapi strategi ini masih menggunakan
sedikit monitoring siswa. Guru otoritatif akan menjelaskan aturan, regulasi
dan menentukan standar dengan masukan dari siswa.
g.
Pembelajar
Para
pembelajar mata pelajaran bahasa Indonesia di SMPN 1 Polenga umumnya adalah
anak-anak yang juga tinggal didaerah Polenga dan beberapa daerah perdesaan sekitarnya.
Dengan kisaran umur 13-14tahun untuk siswa kelas VII dan kisaran umur
14-15tahun untuk kelas VIII. Kebanyakan dari siswa berjenis kelamin
perempuan dan sisanya lelaki dengan perbandingan sekitar 60:40 antara siswa
perempuan dan lelaki.
h.
Durasi pembelajaran
Kelas VII semester 1 SMPN
1 Polenga
No.
|
Kompetensi dasar
|
Alokasi pembelajaran
|
1.
|
Menyimpulkan isi berita yang
dibacakan dalam beberapa kalimat.
|
2x40
|
2.
|
Menuliskan kembali berita yang
dibacakan kedalam beberapa kalimat.
|
2x40
|
3.
|
Menceritakan pengalaman yang
paling mengesankan dengan menggunakan kata yang efektif.
|
6x40
|
4.
|
Menyampaikan pengumuman dengan
intonasi yang tepat serta menggunakan kalimat lugas.
|
6x40
|
5.
|
menemukan makna kata tertentu
dalam kamus secara cepat dan tapat sesuai dengan konteks yang diinginkan
melalui kegiatan membaca dan memindai.
|
2x40
|
6.
7.
|
Memenuhi hal-hal menarik dari
dongeng yang yang diperdengarkan.
Bercerita dengan urutan yang baik,
suara, lafal, intonasi, gesture, dan mimic yang tepat.
|
2x40
6x40
|
Kelas VIII semester 1 SMPN
1 Polenga
|
|
|
No.
|
Kometensi dasar
|
Alokasi waktu
|
1.
|
Menemukan informasi secara cepat
dan tepat dari ensiklopedi atau buku telepon dengan membaca memindai
|
4x40
|
2.
.
|
Menulis surat dinas berkaitan
dengan kegiatan sekolah dengan sistematika yang tepat dan bahasa yang baku
|
2x40
|
3.
|
Berwawancara dengan narasumber
dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara
|
4x40
|
4.
|
Menulis petunjuk melakukan sesuatu
dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif.
|
4x40
|
5.
|
Menganalisis laporan
|
4x40
|
.6.
|
Menanggapi isi laporan
|
4x40
|
7.
8.
|
Menulis laporan dengan menggunakan
bahasa yang baik dan benar
Menyampaikan laporan secara lisan
dengan bahasa yang baik dan benar
|
4x40
4x40
|
9.
|
Mendeskripsikan tempat atau arah
dalam konteks
yang sebenarnya dengan yang
tertera pada denah
|
4x40
|
10.
|
Menyampaikan laporan secara lisan
dengan bahasa yang baik dan benar
|
2x40
|
11.
|
Membuat synopsis novel
remaja
|
2x40
|
i.
lokasi pembelajaran
Lokasi
pembelajaran dilakukan di SMPN 1 Polenga yang terletak di belakang kantor desa
Polenga 2, kecamatan. Watubangga, Kab. Kolaka
B.
KARAKTERISTIK GURU
Ada
beberapa yang harus dilakukan guru agar efektif belajar:
1.
Apakah
guru melakukan review harian : guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMPN 1 Polenga
memberikan PR kepada siswa di setiap akhir pertemuan, hal itu dilakukan guna
siswa tetap mengingat materi yang sudah guru berikan. Dan juga melakukan
pertanyaan guna mereview materi pada pertemuan sebelumnya.
2.
Apakah
guru menyiapkan materi baru : guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMPN 1 Polenga
selalu menyiapkan materi baru setelah materi pada pertemuan sebelumnya telah
selesai.
3.
Apakah
guru melakukan praktik terbimbing : guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMPN 1
Polenga membimbing para peserta didiknya. Dia memberitahu kepada siswa mana
yang benar dan mana yang salah dalam setiap materi yang diajarkannya melalui pemberian
contoh yang ditulis dipapan tulis maupun berdasarkan latihan soal yang ada
dibuku.
4.
Apakah
guru menyiapkan balikan dan koreksi : guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMPN
1 Polenga selalu bertanya disetiap pertemuan, apakah para pembelajar mengerti
atau tidak dengan materi yang disampaikan. Apabila ada yang tidak mengerti maka
guru melakukan penjelasan umum ulang dengan memancing siswa lain untuk turut
menjelaskan materi. Agar kelas kondusif dan aktif.
5.
Apakah
guru melaksanakan praktik mandiri : guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMPN 1
Polenga memberikan tugas individu dan juga kelompok, serta memberikan PR kepada
para siswa. Biasanya tugas individu diberikan agar siswa makin paham dengan
materi yang sudah diberikan guru, agar siswa tidak lupa. Dan tugas kelompok
diberikan kepada siswa dengan pembagian jumlah yang merata, dan tugas kelompok
diberikan waktu yang lebih lama daripada tugas individu maupun PR.
C.
PENDEKATAN
Pendekatan
pengajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMPN 1
Polenga adalah Pendekatan Komunikatif . Menurut David Nunan (1989) dalam
Solchan T.W.,dkk (2001:66). pembelajaran bahasa hendak dibelajarkan menggunakan
pendekatan komunikatif. Dimana pendekatan komunikatif berdasarkan teori bahasa
adalah suatu system untuk mengekspresikan suatu makna, yang menekankan fasa
dimensi semantik dan komunikatif daripada ciri-ciri gramatikal bahasa. Oleh
karna itu yang perlu ditonjolkan adalah interaksi dan komunikasi bahasa, bukan
pengetahuan tentang bahasa.
Teori
belajar yang cocok untuk pendekatan ini adalah teori pemerolehan bahasa ke dua
secara alamiah. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar lebih efektif
apabila bahasa diajarkan secara alamiah sehingga proses belajar bahasa lebih
efektif dilakukan melalui komunikasi langsung dalam bahasa yang dipelajari.
Kebutuhan siswa yang utama dalam belajar bahasa berkaitan dengan kebutuhan
berkomunikasi maka tujuan umum pembelajaran bahasa adalah untuk mengembangkan siswa
untuk berkomunikasi. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan pendekatan
komunikatif siswa dihadapkan pada situasi komunikasi nyata , seperti tukar
menukar informasi, negoisasi makna atau kegiatan lain yang sifatnya riil. Dalam
pendekatan komunikatif peran guru hanya bersifat memfasilitasi proses
komunikasi , partisipan tugas dan teks, menganalisa kebutuhan, konselor dan
manajer pembelajaran.
Sementara
siswa berposisi pada pemberi dan penerima, negosiator, dan interaktor sehingga
siswa tidak hanya menguasai bentuk-bentuk bahasa, tetapi bentuk dan maknanya
dalam kaitannya dengan konteks pemakaian. Materi yang disajikan dalam peranan
sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak
komunikasi nyata. Menurut pendekatan komunikatif metode yang tepat diterapkan
adalah metode komunikatif itu sendiri dengan uraian teknik seperti yang
diuaraikan dalam Santosa, dkk yang dipetik dari Tarigan yang disarikan dari
Solchan, dkk. (2001) berikut ini,
1.
Teknik
pelajaran menyimak,
2.
Teknik
pembelajaran berbicara,
3.
Teknik
pembelajaran membaca,
4.
Teknik
pembelajaran menulis.
Sementara
teknik evaluasi untuk pendekatan ini adalah tes diskrit yaitu
1.
Tes
yang bersifat terpisah antar aspek kebahasaan.
2.
Tes
integratif yaitu tes yang memadukan semua aspek kebahasaan pada suatu tes
evaluasi yang bersifat tercampur.
3.
Tes
pragmatik yaitu kemampuan siswa dalam menggunakan elemen-elemen kebahasaan
dalam konteks situasional tertentu sebagai tolak ukurnya. Beberapa jenis tes
pragmatis adalah, dikte, berbicara, parafrase, menjawab pertanyaan, dan teknik
rumpang
PENGELOLAAN
KELAS
Pengelolaan
kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan itu
sendiri akar katanya adalah “kelola”, ditambah awalan “pe” dan akhiran “an”.
Istilah lain dari pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen adalah kata yang
aslinya dari bahasa Inggris, yaitu management yang berarti ketatalaksanaan,
tata pimpinan, pengelolaan.(Djamarah2006:175)
“Pengelolaan
adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam
pelaksanaan kebijakan dan pencapaian tujuan”Dekdibud (dalam Rachman 1997:11).
Pengelolaan dalam pengertian umum menurut Arikunto (dalam Djamarah 2006:175)
adalah pengadministrasian pengaturan atau penataan suatu kegiatan.
Menurut
Hamalik (dalam Djamarah 2006:175) ”kelas adalah suatu kelompok orang yang
melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru”
sedangkan menurut Ahmad (1995:1) “kelas ialah ruangan belajar dan atau
rombongan belajar” Hadari Nawawi memandang kelas dari dua sudut, yaitu:
1.
Kelas
dalam arti sempit yakni, ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat
sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam
pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekadar menunjuk
pengelompokan siswa menurut tingkat \ perkembangan yang antara lain didasarkan
pada batas umur kronologis masing-masing.
2.
Kelas
dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan merupakan bagian
dari masyarakat sekolah yang sebagai suatu kesatuan diorganisasi menjadi unit
kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar
yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan (Djamarah2006:176).
“Pengelolaan
kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang
kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.”
(Mulyasa2006:91). Sedangkan menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:177)
”Pengelolaan kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas.” Ditambahkan lagi
oleh Nawawi (dalam Djamarah 2006:177) ”Manajemen atau pengelolaan kelas dapat
diartikan sebagai kemampuan guru dalam mendayagunakan potensi kelas berupa
pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap \ personal untuk melakukan
kegitan-kegiatan yang kreatif dan terarah .” Arikunto (dalam Djamarah 2006:177)
juga berpendapat “ bahwa penelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan
oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan
maksud agardicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar
yang seperti \ diharapkan.” Pengelolaan dapat dilihat dari dua segi, yaitu
pengelolaan yang menyangkut siswa dan pengelolaan fisik (ruangan, perabot, alat
pelajaran). Ruang Kelas adalah suatu ruangan dalam bangunan sekolah, yang
berfungsi sebagai tempat untuk kegiatan tatap muka dalam proses kegiatan
belajar mengajar(KBM). Mebeler dalam ruangan ini terdiri dari meja siswa, kursi
siswa, meja guru, lemari kelas, papan tulis, serta aksesoris ruangan lainnya
yang sesuai. Ukuran yang umum adalah 9m x 8m. Ruang kelas memiliki syarat
kelayakan dan standar tertentu, misalnya ukuran, pencahayaan alami, sirkulasi
udara, dan persaratan lainnya yang telah dibakukan oleh pihak berwenang
terkait. Dalam peranya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola
kelas sebagai lingkungan belajar serat merupakan aspek dari lingkungan sekolah
yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar
kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan pendidikan. Lingkungan yang
baik adalah yang bersifat menantang, dan merangsang siswa untuk belajar,
memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan. PERAN guru sebagai
ujung tombak pendidikan amat strategis dalam mengembangkan potensi siswa.
Karena itu penguasaan pengelolaan kelas mutlak harus dikuasai.
Pengelolaan
kelas meliputi ruang, waktu, bahan ajar bersama metode pembelajarannya serta
perangkat evaluasinya. Berangkat dari penyusunan perangkat persiapan hingga
terwujudnya rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yang telah dicontohkan oleh
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), instrumen ini sudah dapat
menggambarkan keadaan kelas dan memprediksi bagaimana guru menjalankan
fungsinya di depan kelas. Beranjak dari pengamatan di lapangan, RPP yang telah
buat oleh beberapa guru dilihat dari sisi pengelolaan waktunya, rupanya beragam
seperti yangtercantum dalam kop lembarannya. Ada yang tertulis 2 x 45 menit,
ada pula 8 x 45 menit, sampai 20 x 45 menit. Pengelolaan kelas (
classroom management ) berdasarkan pendekatan menurut Weber diklasifikasikan
kedalam dua pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter dan pendekatan
permisif. Berikut dijelaskan pengertian dari masing-masing pendekatan tersebut
Pertama, berdasarkan pendekatan otoriter pengelolaan kelas adalah kegiatan guru
untuk mengkontrol tingkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara
aturan kelas melalui penerapan disiplin secara ketat ( Weber ) Bagi
sekolah atau guru yang menganut pendekatan otoriter, maka dalam mengelola kelas
guru atau sekolah tersebut menciptakan iklim sekolah dengan berbagai aturan
atau ketentuan-ketentuan zang harus ditaati oleh warga sekolah/ kelas.
Walaupun
menggunakan pendekatan otoriter, berbagai aturan yang dirumuskan tentu saja
tidak hanza didasarkan pada kemauan sepihak dari pengelola sekolah /kelas saja,
melainkan dengan memasukan aspirasi dari siswa. Hal ini penting mengingat
aturan zang dibuat diperuntukan bagi kepentingan bersama, zaitu untuk menunjang
terjadinya proses pembelajaran zang efektif dan efisien. Kedua pendekatan
permisif mengartikan pengelolaan kelas adalah uapaya zang dilakukan oleh guru
untuk memberi kebebasan untuk siswa melekukan berbagai aktivitas sesuai dengan
zang mereka inginkan. Pengertian kedua ini tentu saja bertolak belakang dengan
pendapat pertama. Menurut pandangan permisif, fungsi guru adalah bagaimana
menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan aktivitas di dalam kelas,
tanpa aharus merasa takut dan tertekan Ada lima definisi tentang pengelolaan
kelas.
Definisi
pertama, memandang bahwa pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol
tingkah laku siswa. Pandangan ini bersifat otoritatif. Dalam kaitan ini tugas
guru ialah menciptakan dan memelihara ketertiban suasana kelas. Penggunaan
disiplin amat diutamakan. Menurut pandangan ini istilah pengelolaan kelas dan disiplin
kelas dipakai sebagai sinonim. Secara lebih khusus, definisi pertama ini dapat
berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan
dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Definisi kedua bertolak
belakang dengan definisi pertama diatas, yaitu yang didasarkan atas pandangan
yang bersifat permisif. Pandangan ini menekankan bahwa tugas guru ialah
memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa. Dalam hal ini guru membantu siswa
untuk merasa bebas melakukan hal yang ingin dilakukannya. Berbuat sebaliknya
berarti guru menghambat atau menghalangi perkembangan anak secara alamiah.
Dengan demikian, definisi kedua dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah
seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa.
Meskipun
kedua pandangan diatas, pandangan otortatif dan permisif, mempunyai sejumlah
pengikut, namun keduanya dianggap kurang efektif bahkan kurang
bertanggungjawab. Pandangan otoritatif adalah kurang manusiawi sedangkan
pandangan permisif kurang realistik. Definisi ketiga didasarkan pada
prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku (behavioral modification). Dalam kaitan
ini pengelolaan kelas dipandang sebagai proses pengubahan tingkah laku siswa.
Peranan guru ialah mengembangkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku
yang tidak diinginkan. Secara singkat, guru membantu siswa dalam mempelajari
tingkah laku yang tepat melalui penerapan prinsip-prinsip yang diambil dari
teori penguatan (reinforcement). Definisi yang didasarkan pada pandangan ini
dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk
mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan
tingkah laku yang tidak diinginkan.
Definisi
keempat memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim
sosio-emosional yang positif didalam kelas. Pandangan ini mempunyai anggaran
dasar bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas
yang beriklim positif, yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara
guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Untuk terciptanya suasana seperti ini
guru memegang peranan kunci. Dengan demikian peranan guru ialah mengembangkan
iklim sosio emosional kelas yang positif melalui pertumbuhan hubungan
interpersonal yang sehat. Dalam kaitan ini definisi keempat dapat berbunyi:
pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan
interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif. Definisi
kelima bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan proses
kelompok (group process) sebagai intinya. Dalam kaitan ini dipakailah anggapan
dasar bahwa pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu kelompok.
Dengan
demikian, kehidupan kelas sebagai kelompok dipandang mempunyai pengaruh yang
amat berarti terhadap kegiatan belajar, meskipun belajar dianggap sebagai
proses individual. Peranan guru ialah mendorong berkembangnya dan
berprestasinya sistem kelas yang efektif. Definisi kelima dapat berbunyi:
pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan
organisasi kelas yang efektif. Ketiga definisi yang terakhir tersebut diatas
masing-masing bertitik tolak dari dasar pandangan yang berbeda. Manakah yang
terbaik diantara ketiga definisi itu? Dari ketiga pandangan itu tidak satupun
pernah dibuktikan sebagai pandangan yang terbaik. Oleh karena itu adalah
bermanfaat apabila guru mampu membentuk suatu pandangan yang bersifat
pluralistic, yaitu pandangan tersebut. Perlu dicatat bahwa pandangan
pluralistic yang merangkum tiga dasar pandangan itu (pandangan tentang
pengubahan tingkah laku, iklim sosio-emosional, dan proses kelompok) tidak
mungkin merangkum juga pandangan yang bersifat otoritatif dan permisif.
Pandangan yang otoritatif dan permisif itu justru dapat berlawanan dengan
pandangan pluralistic yang dimaksud. Definisi yang pluralistic itu dapat
berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan
tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku
yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim
sosio-emosional yang positif, serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi
kelas yang efektif dan produktif.Guru-guru perlu memahami dan memegang salah
satu definisi tersebut diatas yang akan menjadi pedoman bagi tingkah laku dan
kegiatan guru didalam kelas dalam rangka mengelola kelasnya. Definisi yang
lebih tepat bagi guru-guru kiranya adalah definisi yang bersifat pluralistic.
Pengelolaan dan Pembelajaran Pengelolaan dan pembelajaran dapat dibedakan tapi
memilki fungsi zang sama. Pengelolaan tekannya lebih kuat pada aspek pengaturan
( management ) lingkungan pembelajaran, sementara pembelajaran ( instruction )
lebih kuat berkenaan dengan aspek mengelola atau memproses materi pelajaran.
Pada akhirnya dari kedua aktivitas tersebut, keduanya dilakukan dalam rangka
untuk mencapai tujuan yang sama yaitiu tujuan pembelajaran Contoh aspek
pengelolaan, jika di dalam kelas terdapat gambar yang di anggap kurang baik
atau tidak apada tempatnya untuk ditempelkan di dinding karena akan menggangu
konsentrasi siswa dalam belajar, maka guru tersebut memindahkannya dan
menempatkan pada tempat yang di anggap paling cocok. Adapun pembelajaran, jika
diperoleh siswa yang mengelami kesulitan belajar untuk materi-materi tertentu,
maka guru mengidentifikasi sebab-sebabnya, dan membantu siswa mengahadapi
kesulitan-kesulitan yang dihadapinya itu Komponen-Komponen Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas dilakukan untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran zang
lebih berkualitas. Oleh karena itu pendekatan atau teori apapun zang dipilih
dan zang dijadikan dasar dalam pengelolaan kelas, harus diorientasikan pada
terciptanya proses pembelajaran secara aktif dan produktif. Untuk mendukung
proses pembelajaran tersebut, maka aunsur-unsur pengelolaan meliputi dua tindakan,
yaitu ;
1.
Model
tindakan
a.
Preventif
, yaitu upaya yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinza gangguan dalam
pembelajaran. Mencegah lebih baik dari pada mengobati. . Implikasi bagi guru
melalui kegiatan preventif ini yaitu sedini mungkin guru mengidentifikasi
hal-hal atau gejala-gejala zang dianggap akan mengganggu pembelajaran Beberapa
upaya atau keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk mendukung
terhadap tindakan prteventis antara lain ;
1.
Tanggap
/peka, sikap tanggap ini ditunjukan oleh kemampuan guru secara dini mampu
dengan segera merespon terhadap berbagai perilaku atau aktivitas yang di anggap
akan mengganggu pembelajaran atau berkembangnza sikap maupun sifat negatif dari
siswa maupun lingkungan pembelajaran lainnya
2.
Perhatian
yaitu selalu mencurahkan perhatian pada berbagai aktivitas, lingkungan maupun
segala sesuatu zang muncul. Perhatian merupakan salah satu bentuk keterampilan
dan kebiasaan zang harus dimiliki oleh guru.
b.
Refrensif,
keterampilan refrensif tidak diartikan sebagai tindakan kekerasan seperti
halnya penanganan dalam gangguan keamanan. Keterampilan refrensif sebagai salah
satu unsur dari keterampilan pengelolaan kelas
c.
Modifikasi
tingkah laku
·
Modifikasi
tingkah laku yaitu bahwa setiap tingkah laku dapat diamati. Oleh karena itu
bagaimana dengan tingkah laku yang muncul dengan positif, guru memberi respon
positif agar kebiasaan baik itu lebih kuat dan dapat dipelihara
·
Pengelolaan
kelompok, untuk menangani permasalahan hendaknya dilakukan secara kolaborasi
dan mengikutsertakan beberapa komponen atau unsur yang terkait
·
Diagnisis
yaitu suatu keterampilan untuk mencari unsur-unsur yang akan menjadi penyebab
gangguan maupun unsur-unsur yang menjadi kekuatan bagi peningkatan proses
pembelajaran Keberhasilan guru mengajar di kelas tidak cukup bila hanya
berbekal pada pengetahuan tentang kurikulum, metode mengajar, media pengajaran,
dan wawasan tentang materi yang akan disampaikan kepada anak didik. Di samping
itu guru harus menguasai kiat manajemen kelas. Guru hendaknya dapat menciptakan
dan mempertahankan kondisi kelas yang menguntungkan bagi anak didik supaya
tumbuh iklim pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan
(PAKEM). Hampir seluruh hasil survei mengenai keefektifan guru ( teacher
effectiveness ) melaporkan bahwa keterampilan manajemen kelas menentukan
keberhasilan proses belajar siswa atau peringkat yang dicapainya. Dengan
demikian keterampilan manajemen kelas sangat krusial dan fudemental dalam
mendukung proses pembelajaran. Guru – guru yang rendah keterampilannya dalam
bidang manajemen kelas, barangkali tidak dapat menyelesaikan banyak hal yang
menjadi tugas pokoknya. Pendapat ini dikemukakan oleh Brophy dan Evertson dalam
Learning from Teaching, tahun 1976. Menurut beberapa pendapat yang dapat saya
simpulkan konsep manajemen kelas lebih luas dari pada sebatas menciptakan iklim
untuk menegakkan disiplin siswa. Konsep manajemen kelas mencakup segala hal,
yaitu guru harus merangsang keterlibatan dan kerjasama siswa di dalam keseluruhan
aktivitas kelas dan menata lingkungan kerja menjadi lebih produktif lagi bagi
proses pendidikan dan pembelajaran. Guru yang melaksanakan manajemen kelas
sebagai proses pemapanan dan pemeliharaan ( establishing and maintaining )
lingkungan belajar yang efektif cendrung lebih sukses dari pada guru – guru
yang memposisikan atau memerankan diri sebagai figure otoritas atau penegak
disiplin ( authority figures or disciplinarians ) belaka. Kinerja manajemen
kelas yang efektif memungkinkan lahirnya roda penggerak bagi penciptaan
pemahaman diri, evaluasi diri dan internalisasi control diri pada kalangan
siswa. Dalam keseharian tugas dinasnya bahwa siswa paling banyak berhubungan
dengan guru dan demikian juga sebaliknya merupakan perwajahan sekolah yang dapat
dilihat dengan mata telanjang. Dalam tugas kesehariannya, guru berhadapan
dengan siswa yang berbadan tinggi, sedang atau rendah prestasi akademiknya. Ida
pun juga berhadapan dengan siswa yang baik – baik, santun arogan, cuek,
pengganggu bahkan kuat, sedang atau lemah fisiknya. Belum lagi keragaman
tersebut dilihat dari perspektif social, ekonomi, kultur, kebiasaan, agama,
kepedulian dan derajat kohensifitasnya dan lain sebagainya. Siswa yang
bermasalah biasanya menjadi beban si guru dalam mengajar di kelas dan merupakan
kepedulian tindakan yang menjadi beban dari tugas si guru. Bentuk kenakalan dan
prilaku menyimpang para siswa beragam, dari permasalah sampah,berisik dikelas,
mencuri, berkelahi, bolos, pecandu narkoba, dan tidak disiplin dalam belajar. Mengapa
siswa cendrung berprilaku buruk? Ada banyak faktor penyebab hal tersebut,
antaranya adalah faktor sosial, ekonomi, kultural, agama, jenis kelamin, ras,
tempat tinggal, perbedaan potensial kognitif, kesehatan, kebiasaan hidup dan
lain – lain. Faktor yang lain adalah penyebabnya yaitu sekolah sendiri. Tidak
semua sekolah dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara kondusif,
misalnya adalah sekolah lebih dekat dengan tempat keramaian, bangunan yang
sudah terlalu tua, ruang kelas yangmengundang gerah, disiplin guru yang tidak
memadai, manajemen sekolah yang buruk, terlalu banyak pungutan dan lain
sebagainya.Ini berarti ada tantangan serius bagi sekolah. Kedua, menetapkan
tata aturan dan prosedur disiplin yang jelas dan standar, serta mengikat semua
anak didik.Ketiga, melembagakan dan memberi keteladanan mengenai norma – norma
etik yang menjadi pemandu hubungan antar subjek di lingkungan sekolah.
Dari
semua hal tersebut diatas, mari kita lihat pengelolaan kelas di SMPN 1 Polenga pada
mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VII dan VIII semester 1 dapat diketahui
bahwa pada mata pelajaran bahasa Indonesia di SMPN 1 Polenga guru memberikan
reward kepada siswa yang bisa dikatagorikan sebagai siswa yang terpandai
dikelas dengan memberikan ranking kepada siswa yang pandai tersebut, hal itu
dilakukan agar para siswa termotivasi untuk mendapat nilai yang baik dikelas
agar mereka bisa memperoleh ranking atau reward yang ada. Reward bukan hanya
diberikan dalam bentuk pemberian ranking terhadap murid pandai saja, namun juga
dilakukan dengan cara memberi aplouse kepada siswa yang bisa menjawab
pertanyaan yang dilontarkan guru ketika penyampaian materi. Hal itu dilakukan
agar menciptakan suasana aktif dan kondusif yang memancing para siswa untuk
terus aktif dikelas.
E. KONTENSASI KELAS
1.
Intristik kelas
Di
dalam kelas terdapat struktur organisasi yang dimulai dari Ketua Kelas, Wakil
ketua Kelas, Sekertaris, Bendahara, dan seksi kebersihan. Mereka dipilih
langsung oleh para siswa. Dengan cara voting, jabatan itu berlaku selama satu
tahun selama masa KBM. Dan tugas dibagi berdasarkan hak jabatan masing-masing.
2.Ekstrinstik
kelas
Di
SMPN 1 Polenga tidak terdapat kontensasi kelas yang termasuk dalam jenis
ekstrinstik kelas.
KESIMPULAN
Dari observasi yang saya lakukan di SMPN
1 Polenga pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VII dan VIII semester 1
dapat diambil kesimpulan bahwa guru matapelajaran bahasa Indonesia di SMP
tersebut menggunakan system pendekatan individu di dalam kelas, yakni guru
mendekati para siswa dikelas karena di smp ini adalah termasuk kedalam
masyarakat homogeny sebab berada di pedesaan. Sehingga memudahkan guru untuk
melakukan interaksi lebih spesifik terhadap siswa dikelas, hal itu diharapkan
agar siswa merasa nyaman untuk mengikuti pelajaran bahasa Indonesia dikelas.
Gurupun rutin memberikan pertanyaan pada saat proses KBM dikelas agar anak
murid menjadi aktif, guru juga memberikan tugas individu, serta kelompok pada
saat KBM, agar siswa tetap mengingap materi yang guru sampaikan. Dari semua ini
dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan guru sangatlah besar bagi proses belajar
mengajar dikelas.